Tubuhmu Membiru...Tragis
Kamu ingin melompat, ingin sekali melompat
dari ketinggian di ujung sana, menuju entah apa namanya
Coba bukalah mata, indah dibawah sana
Tutup rapat kedua telinga, dari bisikan entah di mana
Kau terbang, dari ketinggian mencari yang paling sunyi
Dan kau melayang, mencari mimpi mimpi tak kunjung nyata
perihmu yang menganga, tak hentinya bertanya
hidup tak selamanya linier, tubuh tak seharusnya tersier
dan kulihat engkau terkulai
tubuhmu membiru...tragis
Balerina
Hidup bagai balerina
gerak maju berirama
detaknya dimana mana seperti udara
hidup bagai balerina
menghimpun energi, mengambil posisi
mmenjejakkan kaki, meniti temali
merendah meninggi rasakan api, konsentrasi
biar tubuhmu berkelana, lalui kegelisahan
mencari keseimbangan mengisi ketiadaan
di kepala dan di dada
hidup trasa begitu lentur
raba tekstuur ciptakan gestur
berjingkat tidak teratur seperti melantur
hidup terasa begitu lentur
Banyak Asap Di Sana
hidup tak lagi sama konglomerasi pesta
lapar bagai hama tak ada yang tersisa
dedikasi dijaga berjejal di kepala
demi sanak saudara hingga menyesakkan dada
diskriminasi hanya untuk kita semua
kado bersama sama di musim perik tiba
yang muda lari ke kota, berharap tanahnya mulia
kosong di depan mata, banyak asap di sana
menanam tak bisa, menangis pun sama
gantung cita cita di tepian kota
Hujan Jangan Marah
lihatkah? aku pucat pasi, sembilu hisapi jemari
setiap ku peluk dan menangisi hijau pucatnya cemara
yang sedih aku letih
dengarkah? Jantungku menyerah, terbelah di tanah yang merah
Gelisah dan hanya suka bertanya pada musim kering
melemah dan melemah
Hujan, hujan jangan marah...
Jangan Bakar Buku
karena seriap lembarnya, mengalir berjuta cahaya
karena setiap aksara membuka jendela dunia
kata demi kata mengantarkan fantasi
habis sudah, habis sudah
bait demi bait pemicu anestesi
hangus sudah, hangus sudah
karena setiap abunya membangkitkan dendam yang reda
karena setiap dendamnya menumbuhkan hasutan baka
Kamar Gelap
yang kau jerat adalah riwayat
tidak punah jadi sejarah
yang bicara adalah cahaya
dikonstruksi dikomposisi
padam semua lampu
semua lampu
membekukan yang cair
mencairkan yang beku
jangan kabur berjamur
segala negatif menuju positif
kekal...
Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa
akan ke manakah aku dibawanya
hingga saat ini menimbulkan tanya
engkau dan aku menuju ruang hampa
tak ada sesiapa hanya kita berdua
kau belah dadaku mengganti isinya
dihisap pikiranku memori terhapus
terkunci mulutku menjeritkan pahit
hingga kau belah rongga dadaku
mengganti isinya dengan batu
hingga kau kunci rapat mulutku
engkau dan aku bumi dan langit
Kenakalan Remaja di Era Informatika
senang mengabadikan tubuh yang tak berhalang
padahal hanya iseng belaka
ketika birahi yang juara
etika menguap entah kemana
oh nafsu menderu deru
bikin malu...
oh nafsu menderu deru
susah maju...
rekam dan memamerkan badan yang lainnya
mungkin hanya untuk kenangan
apakah kita tersesat arah
mengapa kita tak bisa dewasa
Lagu Kesepian
ku tak melihat kau membawa terang
yang kau janjikan
kau bawa bara berserak di halaman
hingga kekeringan
oh dimana terang yang kau janjikan
aku kesepian
dimana tenang yang kau janjikan
aku kesepian
dimana menang yang kau janjikan
aku kesepian
sepi...
ku tak melihat kau membawa tenang
yang kau janjikan
kau bawa debu bertebar di beranda
berair mata
Laki Laki Pemalu
senja akan segera berlalu
seorang lelaki melintas menyimpan malu
menyusul langkah sang gadis yang mungil
tapak kakinya yang lelah menyisakan perih
nanti malam kan ia jerat rembulan
disimpan dalam sunyi hingga esok hari
lelah berpura pura bersandiwara
esok pagi kan seperti hari ini
menyisakan duri, menyisakan perih
menyisakan sunyi...aaa...
berharap gadis mengerti hatinya
tetes keringat mengalir mencoba melawan ragu
Menjadi Indonesia
ada yang memar, kagum banggaku
malu membelenggu
ada yang mekar, serupa benalu
tak mau temanimu
lekas,
bangun tidur berkepanjangan
menyatakan mimpimu
cuci muka biar terlihat segar
merapikan wajahmu
masih ada cara menjadi besar
ada yang runtuh, tamah ramahmu
beda teraniaya
ada yang tumbuh, iri dengkimu
cinta pergi kemana?
memudakan tuamu
menjelma dan menjadi indonesia
Mosi Tidak Percaya
ini masalah kuasa, alibimu berharga
kalau kami tak percaya, lantas kau mau apa?
kamu tak berubah, selalu mencari celah
lalu smakin parah, tak ada jalan tengah
pantas kalau kami marah, sebab dipercaya susah
jelas kalau kami resah, sebab argumenmu payah
kamu ciderai janji, luka belum terobati
kami tak mau dibeli, kami tak bisa dibeli
janjimu pelan pelan akan menelanmu
ini mosi tidak percaya, jangan anggap kami tak berdaya
ini mosi tidak percaya, kami tak mau lagi diperdaya
Kamu ingin melompat, ingin sekali melompat
dari ketinggian di ujung sana, menuju entah apa namanya
Coba bukalah mata, indah dibawah sana
Tutup rapat kedua telinga, dari bisikan entah di mana
Kau terbang, dari ketinggian mencari yang paling sunyi
Dan kau melayang, mencari mimpi mimpi tak kunjung nyata
perihmu yang menganga, tak hentinya bertanya
hidup tak selamanya linier, tubuh tak seharusnya tersier
dan kulihat engkau terkulai
tubuhmu membiru...tragis
Balerina
Hidup bagai balerina
gerak maju berirama
detaknya dimana mana seperti udara
hidup bagai balerina
menghimpun energi, mengambil posisi
mmenjejakkan kaki, meniti temali
merendah meninggi rasakan api, konsentrasi
biar tubuhmu berkelana, lalui kegelisahan
mencari keseimbangan mengisi ketiadaan
di kepala dan di dada
hidup trasa begitu lentur
raba tekstuur ciptakan gestur
berjingkat tidak teratur seperti melantur
hidup terasa begitu lentur
Banyak Asap Di Sana
hidup tak lagi sama konglomerasi pesta
lapar bagai hama tak ada yang tersisa
dedikasi dijaga berjejal di kepala
demi sanak saudara hingga menyesakkan dada
diskriminasi hanya untuk kita semua
kado bersama sama di musim perik tiba
yang muda lari ke kota, berharap tanahnya mulia
kosong di depan mata, banyak asap di sana
menanam tak bisa, menangis pun sama
gantung cita cita di tepian kota
Hujan Jangan Marah
lihatkah? aku pucat pasi, sembilu hisapi jemari
setiap ku peluk dan menangisi hijau pucatnya cemara
yang sedih aku letih
dengarkah? Jantungku menyerah, terbelah di tanah yang merah
Gelisah dan hanya suka bertanya pada musim kering
melemah dan melemah
Hujan, hujan jangan marah...
Jangan Bakar Buku
karena seriap lembarnya, mengalir berjuta cahaya
karena setiap aksara membuka jendela dunia
kata demi kata mengantarkan fantasi
habis sudah, habis sudah
bait demi bait pemicu anestesi
hangus sudah, hangus sudah
karena setiap abunya membangkitkan dendam yang reda
karena setiap dendamnya menumbuhkan hasutan baka
Kamar Gelap
yang kau jerat adalah riwayat
tidak punah jadi sejarah
yang bicara adalah cahaya
dikonstruksi dikomposisi
padam semua lampu
semua lampu
membekukan yang cair
mencairkan yang beku
jangan kabur berjamur
segala negatif menuju positif
kekal...
Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa
akan ke manakah aku dibawanya
hingga saat ini menimbulkan tanya
engkau dan aku menuju ruang hampa
tak ada sesiapa hanya kita berdua
kau belah dadaku mengganti isinya
dihisap pikiranku memori terhapus
terkunci mulutku menjeritkan pahit
hingga kau belah rongga dadaku
mengganti isinya dengan batu
hingga kau kunci rapat mulutku
engkau dan aku bumi dan langit
Kenakalan Remaja di Era Informatika
senang mengabadikan tubuh yang tak berhalang
padahal hanya iseng belaka
ketika birahi yang juara
etika menguap entah kemana
oh nafsu menderu deru
bikin malu...
oh nafsu menderu deru
susah maju...
rekam dan memamerkan badan yang lainnya
mungkin hanya untuk kenangan
apakah kita tersesat arah
mengapa kita tak bisa dewasa
Lagu Kesepian
ku tak melihat kau membawa terang
yang kau janjikan
kau bawa bara berserak di halaman
hingga kekeringan
oh dimana terang yang kau janjikan
aku kesepian
dimana tenang yang kau janjikan
aku kesepian
dimana menang yang kau janjikan
aku kesepian
sepi...
ku tak melihat kau membawa tenang
yang kau janjikan
kau bawa debu bertebar di beranda
berair mata
Laki Laki Pemalu
senja akan segera berlalu
seorang lelaki melintas menyimpan malu
menyusul langkah sang gadis yang mungil
tapak kakinya yang lelah menyisakan perih
nanti malam kan ia jerat rembulan
disimpan dalam sunyi hingga esok hari
lelah berpura pura bersandiwara
esok pagi kan seperti hari ini
menyisakan duri, menyisakan perih
menyisakan sunyi...aaa...
berharap gadis mengerti hatinya
tetes keringat mengalir mencoba melawan ragu
Menjadi Indonesia
ada yang memar, kagum banggaku
malu membelenggu
ada yang mekar, serupa benalu
tak mau temanimu
lekas,
bangun tidur berkepanjangan
menyatakan mimpimu
cuci muka biar terlihat segar
merapikan wajahmu
masih ada cara menjadi besar
ada yang runtuh, tamah ramahmu
beda teraniaya
ada yang tumbuh, iri dengkimu
cinta pergi kemana?
memudakan tuamu
menjelma dan menjadi indonesia
Mosi Tidak Percaya
ini masalah kuasa, alibimu berharga
kalau kami tak percaya, lantas kau mau apa?
kamu tak berubah, selalu mencari celah
lalu smakin parah, tak ada jalan tengah
pantas kalau kami marah, sebab dipercaya susah
jelas kalau kami resah, sebab argumenmu payah
kamu ciderai janji, luka belum terobati
kami tak mau dibeli, kami tak bisa dibeli
janjimu pelan pelan akan menelanmu
ini mosi tidak percaya, jangan anggap kami tak berdaya
ini mosi tidak percaya, kami tak mau lagi diperdaya

0 komentar:
Posting Komentar